Cawérang

Di lingkungan orang Sunda ada istilah-istilah yang berkaitan erat dengan kopi, salah satunya adalah kata cawerang / cawérang. Secara spesifik, istilah cawérang ini hanya ditujukan untuk kopi yang merupakan hasil penyeduhan (brewing) dan sudah berbentuk minuman. Istilah cawérang ini TIDAK ditujukan untuk kopi yang masih berbentuk bubuk atau biji.

Arti Kata “Cawérang”

Cawérang secara khusus artinya bisa bermakna hambar (untuk rasa) atau kurang pekat (untuk warna) atau kombinasi keduanya. Sederhananya, kopi yang cawérang adalah kopi yang terlalu banyak air atau terlalu encer. Untuk padanan kata dalam bahasa Inggris mungkin istilah watery bisa mewakili kata cawérang ini.

Seperti halnya banyak istilah dalam bahasa Sunda, kata cawérang ini peruntukannya spesifik hanya pada hal tertentu saja. Dalam hal ini, istilah cawérang biasanya digunakan untuk objek yang berbahan cairan seperti minuman ataupun makanan berkuah.

Jadi, selain kopi, kata cawérang ini juga bisa ditujukan untuk jenis minuman olahan lain seperti teh, sirup, dll. Bahkan istilah cawérang juga bisa digunakan untuk sup atau kuah soto yang hambar atau kurang pekat atau terlalu bening.

Kopi dan Istilah “Cawérang”

Istilah cawérang ini cenderung memiliki nuansa ‘negatif’ jika dihubungkan terutama dengan kopi. Kopi yang cawérang ibarat sayur tanpa garam, hambar. Saya yakin tidak ada yang mau disuguhi kopi cawérang. Kalaupun ada, mungkin akan menggerutu di belakang. 😀

Pertanyaannya, kenapa orang-orang pada umumnya tidak suka dengan kopi cawérang? Padahal kan banyak juga jenis kopi dari beberapa daerah dengan karakter light / thin bodied yang tidak kalah nikmatnya dengan kopi yang pekat, seperti misalnya kopi arabica Wamena.

Perkiraan saya, hal ini ada hubungannya dengan kultur minum kopi di Indonesia secara umum yang sudah terjadi puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Metode brewing yang paling umum di sini dari zaman dahulu dan turun temurun adalah metode tubruk / seduh langsung. Dengan metode tubruk ini tentu saja kopi yang dihasilkan akan cenderung pekat, terlepas dari apapun jenis biji kopinya.

Seduhan langsung dengan air panas mendidih dan tanpa filter tentu membuat seluruh ‘isi’ yang terkandung di dalam serbuk kopi menyeruak keluar secara maksimal -seperti kandungan minyak, protein dan serat-. Ditambah lagi proses ‘menunggu’ kopi agar mendingin pada kopi tubruk ini membuat proses ekstraksi kopi semakin lama. Kombinasi kedua hal ini tentu menjadikan karakter hasil seduhan kopi tubruk menjadi cenderung kental, pekat dan pahit. Dari generasi ke generasi, karakter kopi seperti inilah yang menjadi patokan sebagai kopi yang ideal.

Untuk karakter rasa pun, kebanyakan orang familier dengan rasa kopi yang pahit. Selain diakibatkan hasil ekstraksi yang lama tadi, mungkin sedari dulu jenis kopi yang sering dikonsumsi adalah jenis robusta yang memang rasanya cenderung lebih ke pahit.

Jadi memang bagi kebanyakan orang (terutama mungkin orang-orang tua), deskripsi kopi yang nikmat itu adalah kopi yang kental dan hitam pekat. Istilah cawérang inilah yang akhirnya muncul untuk mengekspresikan kopi yang kurang ‘sempurna’.

☕☕☕☕☕

Saya jadi ingat cerita pengalaman dari Widi Nursabana, seorang teman yang suka mengulik kopi dan brewing kopi sendiri (dan sekarang memiliki kedai kopi sendiri). Widi sejak mulai ngulik kopi memang selalu bersemangat untuk berbagi wawasan tentang dunia perkopian. Tidak lupa, di setiap kesempatan beliau selalu berusaha mengedukasi tentang jenis-jenis kopi (terutama kopi lokal) serta berbagai metode brewing kepada orang lain terutama penggemar kopi pemula yang ngopi di kedainya.

Suatu hari, Widi ini hendak menghadiahkan kopi arabika single origin yang beliau brewing sendiri kepada ayah mertuanya. Beliau tentu ingin memberikan sajian kopi yang spesial kepada ayah mertuanya itu, sehingga memilih biji kopi yang masih fresh yang baru saja didapatkannya. Kebetulan, karakter body kopi yang dibuat oleh Widi ini memang agak thin / light disebabkan jenis kopi dan alat brewing yang digunakannya. Karena menggunakan kopi arabika, tentu rasanya cenderung agak asam.

Seperti umumnya orang tua generasi dulu yang hanya mengetahui kopi yang nikmat itu adalah kopi hitam yang pekat dan rasa yang pahit, ayah mertua Widi keheranan ketika diberikan secangkir kopi yang “cawérang“. Ketika kopinya diseruput, kontan saja ayah mertuanya itu mencak-mencak karena rasanya yang ‘asam’, tidak sesuai ekspektasinya.

Naon ieu téh kopi meni cawérang kieu?? Nya haseum deuih!!
Yeuh jang, déngékeun… ari nu ngaranna kopi mah di mamana gé pait… kentel…
– Mitoha na Widi

(Apa ini kopi kok encer gini?? Mana asem lagi rasanya!!)
(Nih anak muda, dengerin… kalau yang namanya kopi itu di mana-mana juga pahit… kental…)
– Mertua Widi

Begitulah kurang lebih ekspresi sang ayah mertua yang terkaget-kaget karena kopi ‘aneh’ pemberian sang menantu yang barusan diseruputnya itu. Jadi, bukannya Widi yang berhasil mengedukasi ayah mertuanya, tapi justru malah dia sendiri yang ‘diedukasi’ oleh ayah mertuanya itu. 😆

Makna Umum Istilah “Cawérang”

Sebagai informasi tambahan, di sini saya tambahkan keterangan mengenai kata cawérang yang sebenarnya juga bisa digunakan untuk hal yang lebih umum. Ya, saya tahu ini tidak ada hubungannya dengan kopi. 😛 Tapi saya kira mungkin bisa menambah sedikit pemahaman lainnya mengenai istilah cawérang ini. Ngga apa-apa ya kita sedikit belajar bahasa Sunda. 😀

Secara umum, istilah cawérang merupakan suatu kata atau frasa dalam bahasa Sunda yang bisa juga artinya adalah terdapat sesuatu yang dirasakan kurang dari keadaan yang seharusnya (pada aspek tertentu). Makna umum cawérang yang secara singkat bisa diartikan sebagai ‘kurang’ di sini bisa diterapkan pada hampir semua hal, tidak hanya pada hal yang berhubungan dengan kopi atau minuman saja.

Istilah cawérang yang memiliki makna umum bisa ditemui seperti contoh di bawah ini.

  • Basa Sunda: Penontonna cawérang.
    Bahasa Indonesia: Penontonnya jarang-jarang.
    (artinya bisa juga: penontonnya kurang banyak / kurang ramai / lengang)
  • Basa Sunda: Gambarna cawérang.
    Bahasa Indonesia: Gambarnya kurang ramai.
    (artinya bisa juga: gambarnya kurang mengisi / terlalu banyak ruang kosong)
  • Basa Sunda: Laguna cawérang.
    Bahasa Indonesia: Lagunya kurang meriah .
    (artinya bisa juga: lagunya kurang seru / kurang berharmoni)

Juga bisa didapati penggunaan istilah cawérang yang maknanya lebih meluas lagi seperti contoh di bawah ini.

  • Basa Sunda: Bodoranna cawérang.
    Bahasa Indonesia: Lawakannya kurang lucu.
    (artinya bisa juga: lawakannya datar, garing)
  • Basa Sunda: Si éta téh pajabat sabenerna mah, ngan hanjakal cawérang.
    Bahasa Indonesia: Dia itu sebenarnya pejabat, tapi sayang terasa (terlihatnya) tidak pantas.
    (artinya bisa juga: sikapnya kelihatan kurang cocok, tidak mencerminkan atau tidak pas sebagai pejabat)

Demikianlah penjelasan yang saya ketahui tentang istilah cawérang ini. Perlu diketahui, bahwa saya bukanlah ahli kopi, sosial, sejarah, budaya ataupun ahli bahasa Sunda. Penjelasan saya di atas merupakan pendapat saya berdasarkan pengalaman dan pemahaman pribadi saja.

Apakah ada informasi ataupun koreksi yang perlu ditambahkan, atau mungkin ada istilah dalam bahasa daerah lain yang spesifik berhubungan dengan kopi? Jangan sungkan untuk berbagi di kotak respons di bawah. Hatur nuhun, terima kasih. 🙂

Respons

Beri Respons